“ Tak ada seorang Muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya. ” [HR. Al-Bukhoriy dlm Kitab AL-Muzaro'ah (2320), & Muslim dlm Kitab Al-Musaqoh (3950)]

Rasulullah SAW bersabda, "Tidak menanam seseorang sepucuk tanaman kecuali Allah SWT menuliskan untuknya pahala sebanyak buah yang dihasilkan oleh tanaman tersebut." Kanz al-'Ummal, jil. 3, hal. 892.

Membaca Harga Bawang Merah Dengan Mengintip Tanam & Panen Daerah Lain

Posted by Cara & Teknik Tuesday, December 11, 2012 0 komentar
Membaca Harga Bawang Merah Dengan Mengintip Tanam & Panen Daerah Lain

Membaca Harga Bawang Merah Dengan Mengintip Tanam & Panen Daerah LainArtinya kalau petani ingin menikmati harga yang tinggi, ia harus sudah menanamnya 2-3 bulan sebelum harganya tinggi. Atau kira-kira Februari-Maret (cabai ditanam sebulan kemudian), di mana pada bulan-bulan ini jatuh pada musim peralihan yaitu musim hujan memasuki musim kemarau. Sedangkan memasuki Agustus, petani sudah meramal harga bawang merah-cabai mengalami kegoncangan karena bulan-bulan sekitar Agustus-September adalah bulan-bulan musim panen baik di Patrol maupun daerah lain terutama Brebes-Tegal.

Nara sumber di Cibitung menambahkan, harga menjadi murah karena pada bulan-bulan itu, bawang merah-cabai yang masuk Cibitung tidak hanya dari Jawa Tengah (antara lain dari Brebes, Tegal, Weleri, Demak) melainkan juga dari Jawa Timur (antara lain dari Kediri dan Nganjuk).

Karena itu, perencanaan kapan menanam komoditas tersebut menjadi penting bila tidak ingin terkena “musibah” rugi besar. Sekedar gambaran kapan seharusnya mulai menanam, berdasarkan sumber berikut:
- Pola Produksi Hortikultura, Tanaman Sayuran(Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian RI, 2004).
- Vademekum Tanaman Sayuran (Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman, Direktorat Tanaman Sayuran dan Tanaman Hias, Departemen Pertanian RI, 2000.).
- Vademikum Agribisnis Sayuran (Direktorat Bina Produksi Hortikultura, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura, Departemen Pertanian RI, 1998).

CATATAN PENTING
- umur mulai panen tanaman cabai 90 – 120 hari sejak dibenihkan dan lama panen bisa 3 bulan atau lebih (bisa dipanen sampai 20 kali dan frekuensi pemanenan rata rata 3 – 5 hari sekali;
- umur panen bawang merah 75 – 90 hari dan dipanen sekaligus (fakta lapang, umur 60 hari (bahkan ada yang kurang dari umur ini), petani banyak yang sudah memanennya.

Selain itu adalah dengan memperhatikan perkiraan bulan bulan musim tanam cabai dan bawang merah di berbagai daerah yang dikenal sebagai produsen komoditi tersebut. Meskipun memancing timbulnya pertanyaan, apakah pada saat “banyak daerah yang menanam”, berarti cabai-bawang merah di pasaran sedang kosong, karena tidak ada panenan, sehingga harganya tinggi ? Begitu juga sebaliknya. Apakah pada saat “sedikit daerah yang menanam”, berarti banyak daerah yang memanennya sehingga pasar dibanjiri kedua komoditas itu sehingga harganya rendah ?

1. Musim tanam cabai
- Oktober: Tapanuli Utara, Rejang Lebong, Serang, Ciamis, Sukabumi, Garut, Bandung, Cianjur (9 kabupaten).
- November: Tapanulki Utara, Tanah Karo, Simalungun, Solok, Serang, Majalengka, Kuningan, Ciamis, Sukabumi, Indramayu, Garut, Bandung, Cianjur, Cirebon, Klaten, Wonogiri, Banjarnegara, Rembang, Boyolalai, Cilacap, Jember, Ponorogo, Mojokerto (26 kabupaten).
- Desember: Deli Serdang, Tanah Karo, Simalungun, Tanah Datar, Majalengka, Kuningan, Sukabumi, Indramayu, Cirebon, Klaten, Rembang, Boyolali, Kediri, Banyuwangi, Mojokerto, Malang, Probolinggo, Lamongan, Karangasem (19 kabupaten).
- Januari: Deli Serdang, Kerinci, Klaten, Kediri (4 kabupaten).
- Februari: Tapanuli Utara, Deli Serdang, Blora, Klaten (4 kabupaten).
- Maret: Pandeglang, Majalengka, Bantul, Blora, Grobogan, Semarang, Klungkung (7 kabupaten).
- April: Tapanuli Utara, Pandeglang, Kuningan, Ciamis, Sukabumi, Indramayu, Cianjur, Bantul, Blora, Grobogan, Tegal, Ponorogo, Lumajang (13 kabupaten).
- Mei: Deli Serdang, Tanah Karo, Pandeglang, Serang, Kuningan, Ciamis, Kulon Progo, Grobogan, Wonosobo, Tegal, Magelang, Ponorogo, Lumajang, Probolinggo, Klungkung (15 kabupaten).
- Juni: Tapanuli Utara, Deli Serdang, Simalungun, Tanah Datar, Solok, Serang, Majalengka, Kulon Progo, Grobogan, Temanggung, Brebes, Magelang, Nganjuk, Lumajang, Lombok Timur, Jeneponto (16 kabupaten).
- Juli: Tapanuli Utara, Deli Serdang, Bogor, Bekasi, Temanggung, Brebes, Kediri, Nganjuk, Jember, Ponorogo, Karangasem, Lombok Barat, Lombok Timur (13 kabupaten).
- Agustus: Tapanuli Utara, Deli Serdang, Tanah Karo, Rejang Lebong, Bogor, Bekasi, Kediri, Lombok Barat (8 kabupaten).
- September: Tapanuli Utara, Tanah Karo, Kampar, Agam, Bekasi, Enrekang, Bone (7 kabupaten).

2. Musim tanam bawang merah
- Oktober: Tapanuli Utara, Agam, Kuningan, Kediri, Lombok Barat (5 kabupaten).
- November: Tapanuli Utara, Solok, Indramayu, Blora, Wonogiri, Boyolali, Kediri, Malang, Bone (9 kabupaten).
- Desember: Simalungun, Solok, Bandung, Brebes, Kediri, Malang, Lombok Timur, Enrekang, Jeneponto, Bone (10 kabupaten).
- Januari: Tapanuli Utara, Lombok Timur, Enrekang, Jeneponto (4 kabupaten).
- Februari: Taput, Majalengka, Kuningan, Bandung, Bone (5 kabupaten).
- Maret: Tapanuli Utara, Majalengka, Blora, Wonogiri, Bantul, Magetan, Klungkung (7 kabupaten).
- April: Majalengka, Kuningan, Magetan, Enrekang (4 kabupaten).
- Mei: Kuningan, Brebes, Tegal, Mojokerto, Probolinggo, Magetan, Jeneponto (7 kabupaten).
- Juni: Majalengka, Indramayu, Brebes, Nganjuk, Mojokerto, Malang, Probolinggo, Jeneponto (8 kabupaten).
- Juli: Tanah Datar, Brebes, Tegal, Nganjuk, Probolinggo, Karangasem (6 kabupaten).
- Agustus: Tapanuli Utara, Tanah Karo, Tanah Datar, Kulon Progo, Probolinggo, Bima, Enrekang, Jeneponto (8 kabupaten).
- September: Tapanuli Utara, Tanah Karo, Kuningan (3 kabupaten)

Hindari penanaman secara massal
Kiranya informasi di atas bias dijadikan petunjuk bahwa pada bulan-bulan tertentu terjadi penanaman secara serempak, sehingga bisa dipastikan 2 – 3 bulan kemudian akan tejadi panen besar-besaran; atau pada bulan-bulan yang lain tidak terjadi penanaman secara besar-besaran sehingga tidak terjadi panenan massal. Hal itu sekaligus juga menunjukkan, ada bulan-bulan tertentu tersedia peluang usaha yang bisa digarap, meskipun ada tantangan yang akan dihadapinya, misalnya musim hujan (curah hujan tinggi) atau musim kemarau (keterbatasan penyediaan air).

Tentu saja hal di atas tidak bisa dijadikan “patokan mati”. Sebab kalau menyimak data yang dikeluarkan instansi terkait, ternyata bulan puncak panen dari waktu ke waktu mengalami pergeseran (perubahan). Dampaknya harga komoditas itu ikut bergeser alias selalu berubah dan perubahannya sulit ditebak: “kapan harga tinggi dan kapan harga rendah” !.

Senada dengan pernyataan nara sumber di Cibitung, nara sumber di Pacet setengah mengeluh mengatakan, “Sekarang ini susah menebak kapan harga tinggi dan kapan harga rendah. Dulu, petani bisa dengan mudah membuat target. Kalau waktu panen jatuh persis pada musim hujan, atau pada bulan-bulan Desember, Januari, Februari, bawang merah-cabai, tomat, harganya mahal. Tapi sekarang target itu tidak bisa dibuat lagi.”

Ia mengambil contoh pada musim hujan tahun lalu. Seharusnya harga panenan tomatnya tinggi. Namun yang ia nikmati, selain tanamannya hancur akibat serangan penyakit, harganya juga jatuh. Padahal, hampir semua petani tomat pada waktu itu (paling tidak di Pacet) panenannya banyak yang gagal. Tapi kenapa harganya tetap saja jatuh ? Karena kehancuran panenan tomat di Pacet, mendorong tomat dari daerah lain masuk ke situ, sehingga harga tomat tidak naik malahan sebaliknya. Jadi, pada saat petani Pacet memanen tomat, daerah lain juga memanen. Bisa pula diartikan, musim tanam petani di Pacet itu bersamaan dengan musim tanam di daerah lain. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari pengalaman ini ? Menghindarlah dari penanaman secara massal !

Menekan kerugian

Lalu apa yang dilakukan nara sumber Pacet itu untuk menekan kerugian ? Ia tidak menanam secara “monokultur” melainkan “polikultur”. Maksudnya, dengan keterbatasan lahan, ia lebih suka menanam bermacam-macam tanaman pada setiap musimnya.

Dengan cara ini kerugian pada tanaman yang satu bisa ditutup dari tanaman yang lain. Makanya, nara sumber yang memiliki kurang lebih 1,5 hektar lahan, selain menanam cabai yang ditumpangsarikan dengan kol, bawang daun, sawi, dan brokoli, juga menanam tomat.

Kalau begitu, kapan harus memulai penanaman cabai agar hasil panenannya jatuh persis pada saat harga tinggi ? Tampaknya, berkaca dari pengalaman petani di Pacet itu, penanaman dimulai pada saat daerah lain tidak sedang menanam atau sedikit yang menanam. Bisa juga diartikan, janganlah menanam tanaman yang sama dengan daerah lain. Tanamlah tanaman yang sama saat daerah lain yang secara serempak melakukan panenan raya. Sehingga, pada saat pascapanen raya akan terjadi kekosongan pasokan dan kita justru baru memulai pemanenan.-***.Set.
Sumber Pustaka
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment